<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>http://www.purwakarta.org &#187; Islami</title>
	<atom:link href="http://www.purwakarta.org/index.php/category/islami/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.purwakarta.org</link>
	<description>Media Informasi dan Komunikasi</description>
	<lastBuildDate>Fri, 27 Jan 2012 16:18:31 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Menyambut Ramadhan 1429 H</title>
		<link>http://www.purwakarta.org/index.php/2008/08/28/menyambut-ramadhan-1429-h/</link>
		<comments>http://www.purwakarta.org/index.php/2008/08/28/menyambut-ramadhan-1429-h/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 27 Aug 2008 19:29:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>faiz</dc:creator>
				<category><![CDATA[Islami]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.purwakarta.org/index.php/2008/08/28/menyambut-ramadhan-1429-h/</guid>
		<description><![CDATA[<div class="addthis_toolbox addthis_default_style " addthis:url='http://www.purwakarta.org/index.php/2008/08/28/menyambut-ramadhan-1429-h/' addthis:title='Menyambut Ramadhan 1429 H '  ><a class="addthis_button_facebook_like" fb:like:layout="button_count"></a><a class="addthis_button_tweet"></a><a class="addthis_button_google_plusone" g:plusone:size="medium"></a><a class="addthis_counter addthis_pill_style"></a></div>&#226;Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertaqwa &#226; (QS 2:183). Beberapa hari lagi kita akan kedatangan bulan Ramadhan. Kedatangan Ramadhan tahun ini tentu kita sambut dengan penuh kegembiraan karena insya Allah, kesempatan menikmati ibadah Ramadhan kembali kita peroleh. Target utama dari ibadah Ramadhan sebagaimana [...]<div class="addthis_toolbox addthis_default_style addthis_32x32_style" addthis:url='http://www.purwakarta.org/index.php/2008/08/28/menyambut-ramadhan-1429-h/' addthis:title='Menyambut Ramadhan 1429 H ' ><a class="addthis_button_preferred_1"></a><a class="addthis_button_preferred_2"></a><a class="addthis_button_preferred_3"></a><a class="addthis_button_preferred_4"></a><a class="addthis_button_compact"></a></div>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="addthis_toolbox addthis_default_style " addthis:url='http://www.purwakarta.org/index.php/2008/08/28/menyambut-ramadhan-1429-h/' addthis:title='Menyambut Ramadhan 1429 H '  ><a class="addthis_button_facebook_like" fb:like:layout="button_count"></a><a class="addthis_button_tweet"></a><a class="addthis_button_google_plusone" g:plusone:size="medium"></a><a class="addthis_counter addthis_pill_style"></a></div><p><a title="ramdhan2.jpg" href="http://www.purwakarta.org/wp-content/uploads/2008/08/ramdhan2.jpg"><img src="http://www.purwakarta.org/wp-content/uploads/2008/08/ramdhan2.thumbnail.jpg" alt="ramdhan2.jpg" /></a><br />
 &acirc;Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertaqwa &acirc; (QS 2:183).</p>

<p>Beberapa hari lagi kita akan kedatangan bulan Ramadhan. Kedatangan Ramadhan tahun ini tentu kita sambut dengan penuh kegembiraan karena insya Allah, kesempatan menikmati ibadah Ramadhan kembali kita peroleh. Target utama dari ibadah Ramadhan sebagaimana yang disebutkan pada ayat diatas adalah semakin mantapnya ketaqwaan kepada Allah Swt. Sebagai wujud dari rasa gembira itulah, Ramadhan tahun ini tidak boleh kita lewatkan begitu saja tanpa aktivitas yang dapat meningkatkan ketaqwaan diri, keluarga dan masyarakat kita kepada Allah Swt. Maka, persiapan-persiapan kearah itu sudah harus kita lakukan, baik secara pribadi maupun bersama-sama.</p>

<p><span></span>Ramadhan yang penuh berkah harus kita jadikan sebagai momentum untuk menyelamatkan masyarakat dengan melakukan taqarrub ilallah (mendekatkan diri kepada Allah), baik dengan taubat, munajat dan menjalankan sejumlah peribadatan maupun dengan khidmat yakni memberikan pelayanan yang terbaik kepada masyarakat agar kehidupan kita betul-betul dapat dirasakan manfaatnya bagi orang lain dan perbaikan masyarakat dapat kita wujudkan dari waktu ke waktu, baik perbaikan diri, keluarga, masyarakat maupun bangsa dan negara.</p>

<p><strong>Persiapan Menjelang Ramadhan</strong></p>

<ol>
	<li>Memperbanyak doa, jika telah memasuki bulan Rajab, maka Rasulullah saw berdoa,

<p><em>&acirc;Ya Allah berkahilah kami dalam bulan Rajab dan Syaban dan sampaikanlah kami pada bulan Ramadhan.&acirc;<br />
 &acirc;Ya Allah bulan Ramadhan telah menaungi kami dan telah hadir, serahkanlah ia pada kami dan serahkanlah kami padanya, karunikanlah kami kesanggupan untuk berpuasa, dan menegakkan malam-malamnya. Dan karuniakanlah kami kesungguhan kekuatan dan semangat serta jauhkanlah kami dari fitnah didalamnya.&acirc; &acirc;Ya Allah sampaikanlah kami pada Ramadhan dengan aman, keimanan, keselamatan, Islam, kesehatan dan terhindar dari penyakit serta bantulah kami untuk melaksanakan shalat, puasa dan tilawah al-Quran padanya.&acirc;</em></p></li>
	<li>Memperbanyak aktivitas puasa di bulan Syaban, seperti yang dilakukan oleh Rasulullah saw dalam hadis Bukhari-Muslim, Aisyah ra. berkata : Tidaklah aku lihat Rasul menyempurnakan puasanya sebulan penuh kecuali pada Ramadhan dan tidak juga aku lihat beliau memperbanyak puasa sunnatnya kecuali di bulan Syaban.</li>
	<li>Memperbanyak aktivitas tilawah Quran, sebagaimana yang diungkapkan Anas bin Malik bahwa para sahabatjika memasuki bulan Syaban, mereka segera mengambil mushaf dan membacanya.</li>
	<li>Segera mengqodho puasa. Aisyah ra. berkata : Dulu aku pernah punya hutang puasa Ramadhan, dan aku tidak dapat membayar qodhonya kecuali pada bulan Syaban.</li>
	<li>Saling maaf memaafkan sesama muslim, sehingga dalam memasuki Ramadhan dosa kita dengan sesama sudah terhapuskan sehingga pada bulan Ramadhan hanya menyelesaikan dosa kepada Allah swt saja, dan pada saat hari raya Idul Fitri tiba , kita benar-benar berada dalam keadaan fitrah.</li>
	<li>Mengkaji fiqih yang berkaitan dengan ibadah Ramadhan, sehingga pelaksanaannya berjalan dengan baik berdasarkan pemahaman yang benar.</li>
</ol>

<p><strong>Pada Saat Ramadhan</strong><br />
 Ihya Ramadhan atau menghidupkan Ramadhan dengan berbagai aktivitas yang dapat mendekatkan diri kepada Allah.Bulan yang penuh berkah, rahmat dan ampunan ini hendaknya diisi dengan memperbanyak ibadah kepada Allah swt, memperpanjang ruku, sujud, shalat tarawih, bermunajat kepada Allah, memperbanyak sholat nawafil, senantiasa berzikit, tilawah dan tadabbur al-Quran, Itikaf pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan, mengurangi waktu tidur pada siang hari (sementara Rasulullah dan Ummahatul Muminin selama Ramadhan begitu aktifnya beramal). Disamping itu aktivitas Ramadhan juga harus dapat memperkokoh hubungan dengan sesama, seperti memberikan zakat, infaq dan shodaqoh, ifthor (buka puasa bersama) dll. Menjauhkan diri dari perbuatan laghwu (sia-sia) Bulan Ramadhan adalah fursoh untuk memperbanyak ibadah sehingga kita dapat menjauhi hal-hal yang mempersempit waktu ibadah, seperti menghabiskan waktu hampir seharian di dapur untuk menyiapkan makanan berbuka, karena saat yang terbaik untuk pengisian ruh dan pensucian jiwa akan hilang begitu saja dengan pengisian perut dan pengotoran jiwa, menghabiskan waktu di depan televisi<br /><br />
 dan perbuatan lainnya yang cenderung tidak ada gunanya.</p>

<p>Menahan anggota tubuh dan hati dari perbuatan yang diharamkan menjadi suatu keniscayaan dalam bulan Ramadhan ini. Seperti misalnya menahan pandangan mata dari pandangan yang dimakruhkan, Menahan pendengaran dari namimah, ghibah dan kemungkaran, menjaga Lisan dan hati dari perbuatan yang dapat mengotorinya. Rasulullah saw Bersabda : bukanlah shaum itu sekedar meninggalkan makan dan minum, Melainkan meninggalkan pekerjaan sia-sia (tak bernilai) dan kata-kata Sombong (HR.Ibnu Hibban dan Ibnu Khuzaimah).</p>

<p>Rasulullah saw juga Bersabda : Barangsiapa yang selama berpuasa tidak juga meninggalkan kata-kata bohong, bahkan mempraktekkannya, maka tidak ada nilainya bagi Allah apa yang ia sangkakan sebagai puasa, yaitu sekedar meninggalkan makan dan minum (HR.Bukhari-Muslim).</p>

<p>Dalam Ramadhan ini kita bertekad akan menyelami rahasia kehidupan, dari mana, di mana dan hendak kemana kita ? Sehingga kita akan menghayati bahwa dunia ini adalah tempat berusaha untuk mematuhi perintah Allah dan akhirat adalah untuk menerima balasan dariNya.</p>

<p>Pada bulan Ramadhan ini, kita akan berusaha untuk mendapatkan rahmat dan ampunan Allah, karena sesungguhnya kecelakaanlah bagi orang-orang yang tidak mendapatkan rahmat Allah pada bulan yang penuh dengan rahmat ini.</p>

<p>Selamat datang Wahai Ramadhan, bulan yang agung, bulan yang penuh berkah, bulan yang menghapuskan dosa dan mengabulkan doa bagi orang-orang yang bersungguh-sungguh beribadah di dalamnya.</p>

<p><em> Ya Ilahi, Engkaulah tujuan kami dan KeridhoanMulah dambaan kami.</em></p><div class="addthis_toolbox addthis_default_style addthis_32x32_style" addthis:url='http://www.purwakarta.org/index.php/2008/08/28/menyambut-ramadhan-1429-h/' addthis:title='Menyambut Ramadhan 1429 H ' ><a class="addthis_button_preferred_1"></a><a class="addthis_button_preferred_2"></a><a class="addthis_button_preferred_3"></a><a class="addthis_button_preferred_4"></a><a class="addthis_button_compact"></a></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.purwakarta.org/index.php/2008/08/28/menyambut-ramadhan-1429-h/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Memupuk Sikap Tangguh</title>
		<link>http://www.purwakarta.org/index.php/2007/07/14/memupuk-sikap-tangguh/</link>
		<comments>http://www.purwakarta.org/index.php/2007/07/14/memupuk-sikap-tangguh/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 13 Jul 2007 22:09:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>faiz</dc:creator>
				<category><![CDATA[Islami]]></category>
		<category><![CDATA[Lentera Hati]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.purwakarta.org/index.php/2007/07/14/memupuk-sikap-tangguh/</guid>
		<description><![CDATA[<div class="addthis_toolbox addthis_default_style " addthis:url='http://www.purwakarta.org/index.php/2007/07/14/memupuk-sikap-tangguh/' addthis:title='Memupuk Sikap Tangguh '  ><a class="addthis_button_facebook_like" fb:like:layout="button_count"></a><a class="addthis_button_tweet"></a><a class="addthis_button_google_plusone" g:plusone:size="medium"></a><a class="addthis_counter addthis_pill_style"></a></div>Kita akan salut kepada seorang ibu yang mati-matian mengurus anaknya di tengah kesulitan ekonomi yang menghimpit. Kita akan salut kepada pasukan yang berani mati di medan perang, walau musuh yang dihadapi jumlahnya jauh lebih banyak. Kita akan salut kepada seorang pemimpin yang jujur, sederhana dan berjuang siang malam demi kebaikan orang-orang yang dipimpinnya. Intinya, kita [...]<div class="addthis_toolbox addthis_default_style addthis_32x32_style" addthis:url='http://www.purwakarta.org/index.php/2007/07/14/memupuk-sikap-tangguh/' addthis:title='Memupuk Sikap Tangguh ' ><a class="addthis_button_preferred_1"></a><a class="addthis_button_preferred_2"></a><a class="addthis_button_preferred_3"></a><a class="addthis_button_preferred_4"></a><a class="addthis_button_compact"></a></div>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="addthis_toolbox addthis_default_style " addthis:url='http://www.purwakarta.org/index.php/2007/07/14/memupuk-sikap-tangguh/' addthis:title='Memupuk Sikap Tangguh '  ><a class="addthis_button_facebook_like" fb:like:layout="button_count"></a><a class="addthis_button_tweet"></a><a class="addthis_button_google_plusone" g:plusone:size="medium"></a><a class="addthis_counter addthis_pill_style"></a></div><p><a title="tangguh.jpg" href="http://www.purwakarta.org/wp-content/uploads/2007/07/tangguh.jpg"><img class="alignleft" src="http://www.purwakarta.org/wp-content/uploads/2007/07/tangguh.thumbnail.jpg" alt="tangguh.jpg" width="128" height="96" /></a>Kita akan salut kepada seorang ibu yang mati-matian mengurus anaknya di tengah kesulitan ekonomi yang menghimpit. Kita akan salut kepada pasukan yang berani mati di medan perang, walau musuh yang dihadapi jumlahnya jauh lebih banyak. Kita akan salut kepada seorang pemimpin yang jujur, sederhana dan berjuang siang malam demi kebaikan orang-orang yang dipimpinnya. Intinya, kita akan salut kepada mereka yang memiliki ketangguhan dalam hidup.</p>

<p>Pertanyaannya, apakah kita termasuk manusia tangguh atau rapuh? Di balik manusia tangguh, biasanya ada banyak manusia rapuh. Dihadapkan pada masalah sepele saja mereka goyah. Lihatlah, ada yang hanya putus cinta, ia bunuh diri. Atau hanya karena tidak disapa tetangga, ia panas dingin dan sakit hati. Maka, mulai sekarang kita harus memiliki keberanian untuk mengevaluasi diri. Apakah kita itu bermental tangguh atau sebaliknya? Kalau sudah mengenal diri, kita harus memiliki program untuk membangun ketangguhan diri.</p>

<p><span></span>Saya pernah melihat kontes ketahanan fisik di televisi, yaitu untuk memilih manusia <em>&acirc;terkuat&acirc;</em> di dunia dari segi fisik. Mereka harus berlari puluhan kilometer, berenang, mengayuh sepeda, mengarungi kubangan lumpur, dan lainnya. Dalam lomba tersebut, terlihat ada orang yang semangatnya kuat, tapi fisiknya lemah. Ada yang semangatnya lemah, tapi fisiknya kuat. Ada yang fisik dan semangatnya lemah. Tapi ada pula yang semangat dan fisiknya sama-sama kuat. Mereka inilah yang akhirnya keluar sebagai pemenang. Ternyata, ketangguhan akan terlihat saat seseorang mengarungi medan ujian. Semakin berat medan ujian, semakin terlihat pula ketangguhannya.</p>

<p>Hidup hakikatnya adalah medan kesulitan sekaligus medan ujian. Separuh hidup kita adalah medan ujian yang berat. Yang akan keluar sebagai pemenang hanyalah mereka yang tangguh, yang mampu melewati setiap kesulitan dengan baik. Dalam Al-Quran, Allah berjanji akan membahagiakan orang-orang sabar dan tangguh mengarungi hidup. <em>Dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. Yaitu mereka yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, Sesungguhnya kami adalah kepunyaan Allah, dan kepada-Nya kami akan kembali (QS Al Baqarah [2]: 155-156)</em>.</p>

<p><strong>Ciri manusia tangguh</strong><br />
 Ketangguhan hakiki tidak dilihat dari fisiknya (walau ini penting), tapi dilihat dari keimanannya. Manusia paling tangguh adalah manusia yang paling takwa dan kuat imannya. Boleh jadi tubuh kita lemah, rapuh, bahkan lumpuh, tapi kalau ia memiliki ketangguhan iman, maka kelemahan fisik akan tertutupi.</p>

<p>Orang yang kuat iman, salah satu cirinya adalah tangguh menghadapi cobaan hidup. Kesulitan apapun yang menderanya, tidak sedikit pun ia berpaling dari Allah, malah semakin dekat. Ada lima prinsip yang senantiasa dipegangnya.</p>

<p><strong>Pertama</strong>, sadar bahwa kesulitan adalah episode yang harus dijalani. Sehingga ia akan menghadapinya sepenuh hati; tidak ada kamus mundur atau menghindar.</p>

<p><strong>Kedua</strong>, yakin bahwa setiap kesulitan sudah tepat ukurannya bagi setiap orang.</p>

<p><strong>Ketiga</strong>, yakin bahwa ada banyak hikmah di balik kesulitan.</p>

<p><strong>Keempat,</strong> yakin bahwa setiap ujian pasti ada ujungnya.</p>

<p><strong>Kelima</strong>, yakin bahwa setiap kesulitan yang disikapi dengan cara terbaik akan mengangkat derajatnya di hadapan Allah. Ada sesuatu yang besar di balik kesulitan yang menghadang. Semakin berat ujian, semakin luar biasa pula ganjaran yang akan diterima.</p>

<p>Sesulit apapun keadaan kita, pilihan terbaik hanya satu: <strong><em>&acirc;Kita harus menjadi manusia tangguh&acirc;</em></strong>. Jangan putus asa atau menyerah. Bergeraklah terus karena segala sesuatu ada ujungnya. Kesulitan tidak mungkin akan terus mendera kita. Bukankah di balik setiap kesulitan ada dua kemudahan?.</p><div class="addthis_toolbox addthis_default_style addthis_32x32_style" addthis:url='http://www.purwakarta.org/index.php/2007/07/14/memupuk-sikap-tangguh/' addthis:title='Memupuk Sikap Tangguh ' ><a class="addthis_button_preferred_1"></a><a class="addthis_button_preferred_2"></a><a class="addthis_button_preferred_3"></a><a class="addthis_button_preferred_4"></a><a class="addthis_button_compact"></a></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.purwakarta.org/index.php/2007/07/14/memupuk-sikap-tangguh/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tahapan Yakin</title>
		<link>http://www.purwakarta.org/index.php/2007/07/14/tahapan-yakin/</link>
		<comments>http://www.purwakarta.org/index.php/2007/07/14/tahapan-yakin/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 13 Jul 2007 21:48:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>faiz</dc:creator>
				<category><![CDATA[Islami]]></category>
		<category><![CDATA[Lentera Hati]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.purwakarta.org/index.php/2007/07/14/tahapan-yakin/</guid>
		<description><![CDATA[<div class="addthis_toolbox addthis_default_style " addthis:url='http://www.purwakarta.org/index.php/2007/07/14/tahapan-yakin/' addthis:title='Tahapan Yakin '  ><a class="addthis_button_facebook_like" fb:like:layout="button_count"></a><a class="addthis_button_tweet"></a><a class="addthis_button_google_plusone" g:plusone:size="medium"></a><a class="addthis_counter addthis_pill_style"></a></div><img src="http://www.purwakarta.org/wp-content/uploads/2007/07/chyhati.thumbnail.jpg" alt="chyhati.jpg" /> 

Cahaya yang tersimpan di dalam hati, datang dari cahaya yang langsung dari khazanah-khazanah kegaiban. Cahaya yang memancar dari panca inderamu berasal dari ciptaan Allah. Dan cahaya yang memancar dari hatimu berasal dari sifat-sifat Allah." (Ibnu Atha'illah).

Allah itu sesuai dengan prasangka hamba-Nya. Seorang hambad yang yakin akan pertolongan Allah, maka dengan sangat meyakinkan Allah pasti akan menolongnya. Seorang hamba yang yakin doanya akan dikabulkan, maka Allah akan mengabulkan doa-doa tersebut lebih dari yang kita minta.
<div class="addthis_toolbox addthis_default_style addthis_32x32_style" addthis:url='http://www.purwakarta.org/index.php/2007/07/14/tahapan-yakin/' addthis:title='Tahapan Yakin ' ><a class="addthis_button_preferred_1"></a><a class="addthis_button_preferred_2"></a><a class="addthis_button_preferred_3"></a><a class="addthis_button_preferred_4"></a><a class="addthis_button_compact"></a></div>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="addthis_toolbox addthis_default_style " addthis:url='http://www.purwakarta.org/index.php/2007/07/14/tahapan-yakin/' addthis:title='Tahapan Yakin '  ><a class="addthis_button_facebook_like" fb:like:layout="button_count"></a><a class="addthis_button_tweet"></a><a class="addthis_button_google_plusone" g:plusone:size="medium"></a><a class="addthis_counter addthis_pill_style"></a></div><p><a title="chyhati.jpg" href="http://www.purwakarta.org/wp-content/uploads/2007/07/chyhati.jpg"><img src="http://www.purwakarta.org/wp-content/uploads/2007/07/chyhati.thumbnail.jpg" alt="chyhati.jpg" /></a><br />
 Cahaya yang tersimpan di dalam hati, datang dari cahaya yang langsung dari khazanah-khazanah kegaiban. Cahaya yang memancar dari panca inderamu berasal dari ciptaan Allah. Dan cahaya yang memancar dari hatimu berasal dari sifat-sifat Allah.&#8221; (Ibnu Atha&#8217;illah)</p>

<p>Allah itu sesuai dengan prasangka hamba-Nya. Seorang hamba yang yakin akan pertolongan Allah, maka dengan sangat meyakinkan Allah pasti akan menolongnya. Seorang hamba yang yakin doanya akan dikabulkan, maka Allah akan mengabulkan doa-doa tersebut lebih dari yang kita minta.</p>

<p><span></span>Dari sini kita layak merenung, mengapa kita banyak kecewa dan tidak puas dalam hidup? Boleh jadi kita lebih yakin akan kemampuan diri serta pertolongan makhluk, daripada pertolongan Allah. Sungguh manusia itu sangat lemah. Ia sama sekali tidak kuasa mengatur dirinya sendiri, tidak tahu apa akan terjadi esok, serta berjuta kelemahan lainnya. Sungguh naif jika kita terlalu mengandalkan diri yang serba terbatas dengan melupakan Allah Yang Maha Segala-galanya. Maka, keyakinan yang bulat kepada-Nya menjadi jaminan kebahagiaan hidup kita.</p>

<p>Setidaknya ada tiga tahap yang harus kita tempuh usaha meningkatkan kualitas keyakinan. Pertama, <em>&#8216;ilmul yaqin</em>. Yaitu meyakini segala sesuatu berdasarkan ilmu atau pengetahuan. Misal, di Mekah ada Kabah. Kita percaya karena teorinya bicara seperti itu.</p>

<p>Di sinilah pentingnya belajar dan mencari ilmu sebanyak-banyaknya. Sebab, semakin luas pengetahuan kita tentang sesuatu, khususnya tentang Dzat Allah Azza wa Jalla, seakan kita memiliki bekal untuk berjalan mendekat kepada-Nya.</p>

<p>Kedua, <em>&#8216;ainul yaqin</em>, Yaitu keyakinan yang timbul karena kita telah melihatnya dengan mata kepala sendiri. Orang yang telah menunaikan ibadah haji sangat yakin bahwa Kabah itu memang ada di Mekah karena ia telah melihatnya. Keyakinan karena melihat, akan lebih kuat dibandingkan keyakinan karena ilmu.</p>

<p>Ketiga adalah <em>haqqul yaqin</em>. Orang yang telah <em>haqqul yakin</em> akan memiliki keyakinan yang dalam dan terbukti kebenarannya. Orang yang telah merasakan nikmatnya thawaf, berdoa di Multazam, merasakan ijabahnya doa, keyakinan akan jauh lebih mendalam. Inilah tingkat keyakinan tertinggi yang akan sulit diruntuhkan dan dicabut dari hati orang yang memilikinya. Cara meningkatkan kualitas keyakinan diri, sejatinya harus melalui proses dan tahapan-tahapan, mulai dari <em>&#8216;ilmul yaqin, &#8216;ainul yaqin</em>, hingga <em>haqqul yakin</em>.</p>

<p>Saudaraku, sesungguhnya semua yang ada adalah milik Allah. Sungguh rugi orang-orang yang hatinya bergantung kepada selain Allah. Yakinlah, bahwa Allah adalah Dzat Yang Maha Mengatur segalanya. Sungguh sayang jika kita mengatakan bahwa Allah Mahakaya, namun kita takut tidak mendapatkan rezeki. Kita tahu bahwa Allah Maha Menentukan segala sesuatu, Dia menciptakan manusia berpasang-pasangan, namun kita sering risau tidak mendapatkan pasangan hidup. Bila demikian, kita masih berada dalam tingkat <em>&#8216;ainul yaqin </em> dan belum sampai ke tingkat <em>haqqul yaqin</em>.</p>

<p>Mengapa ada orang yang keluar (murtad) dari Islam? Sebabnya, keyakinan yang dimilikinya baru sebatas &#8216;ilmul yaqin; sebatas tahu bahwa Islam itu baik, namun ia belum merasakan bagaimana indahnya Islam. Saudaraku, keyakinan yang hanya sebatas ilmu belum cukup membuat kita istikamah. Keyakinan kita harus benar-benar meresap ke dalam sanubari.</p>

<p>Cahaya keyakinan yang tersimpan di dalam hati ternyata datang dari khazanah kegaiban Allah Azza wa Jalla. Alam semesta ini terang benderang karena cahaya dari benda-benda langit yang diciptakan-Nya. Sedangkan cahaya yang menerangi hati manusia berasal dari cahaya Ilahi.</p>

<p>Ibnu Atha&#8217;illah mengungkapkan, &#8220;Cahaya yang tersimpan di dalam hati, datang dari cahaya yang langsung dari khazanah-khazanah kegaiban. Cahaya yang memancar dari panca inderamu berasal dari ciptaan Allah. Dan cahaya yang memancar dari hatimu berasal dari sifat-sifat Allah.&#8221;</p>

<p>Dengan demikian, keterbukaan hati dalam menerima cahaya inilah yang harus selalu kita jaga. Bagaimana agar hati kita terbuka? Berusahalah untuk meneliti dan mengenali aneka hikmah di balik setiap kejadian. Jangan hanya melihat setiap kejadian dengan mata lahir saja, tapi gunakan mata hati kita. Namun, mata hati hanya akan berfungsi jika ia bersih dari noda dosa dan maksiat. Hati yang kotor sangat sulit menangkap sinyal-sinyal Ilahi. Mirip kaca. Ia tidak bisa memantulkan cahaya, tidak bisa merefleksikan sebuah objek jika penuh karatan. Syaratnya, ia harus bersih. Hati akan bersih jika kita merawatnya.</p><div class="addthis_toolbox addthis_default_style addthis_32x32_style" addthis:url='http://www.purwakarta.org/index.php/2007/07/14/tahapan-yakin/' addthis:title='Tahapan Yakin ' ><a class="addthis_button_preferred_1"></a><a class="addthis_button_preferred_2"></a><a class="addthis_button_preferred_3"></a><a class="addthis_button_preferred_4"></a><a class="addthis_button_compact"></a></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.purwakarta.org/index.php/2007/07/14/tahapan-yakin/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Takut Miskin di Akhirat</title>
		<link>http://www.purwakarta.org/index.php/2007/03/03/takut-miskin-di-akhirat/</link>
		<comments>http://www.purwakarta.org/index.php/2007/03/03/takut-miskin-di-akhirat/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 03 Mar 2007 09:07:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>faiz</dc:creator>
				<category><![CDATA[Islami]]></category>
		<category><![CDATA[Lentera Hati]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.purwakarta.org/index.php/2007/03/03/takut-miskin-di-akhirat/</guid>
		<description><![CDATA[<div class="addthis_toolbox addthis_default_style " addthis:url='http://www.purwakarta.org/index.php/2007/03/03/takut-miskin-di-akhirat/' addthis:title='Takut Miskin di Akhirat '  ><a class="addthis_button_facebook_like" fb:like:layout="button_count"></a><a class="addthis_button_tweet"></a><a class="addthis_button_google_plusone" g:plusone:size="medium"></a><a class="addthis_counter addthis_pill_style"></a></div><img title="mtr.jpg" mce_real_src="http://www.purwakarta.org/wp-content/uploads/2007/03/mtr.jpg" id="image248" src="http://www.purwakarta.org/wp-content/uploads/2007/03/mtr.jpg" alt="mtr.jpg" align="left"/>Mengingat harga-harga barang kebutuhan terus meningkat, seorang pemuda selalu mengeluh karena tak mampu memenuhi kebutuhan hidupnya. Setelah berdiskusi dengan seorang kiai makrifat, pemuda itu pun mengikuti anjurannya untuk menjalankan shalat Hajat serta tetap istiqomah melaksanakan shalat wajib lima waktu.<div align="justify">
</div><p align="justify">''Pak Kiai, tiga tahun sudah saya menjalankan ibadah sesuai anjuran Bapak. Setiap hari saya shalat Hajat semata-mata agar Allah SWT melimpahkan rezeki yang cukup. Namun, sampai saat ini saya masih saja miskin,'' keluh si pemuda.</p><div class="addthis_toolbox addthis_default_style addthis_32x32_style" addthis:url='http://www.purwakarta.org/index.php/2007/03/03/takut-miskin-di-akhirat/' addthis:title='Takut Miskin di Akhirat ' ><a class="addthis_button_preferred_1"></a><a class="addthis_button_preferred_2"></a><a class="addthis_button_preferred_3"></a><a class="addthis_button_preferred_4"></a><a class="addthis_button_compact"></a></div>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="addthis_toolbox addthis_default_style " addthis:url='http://www.purwakarta.org/index.php/2007/03/03/takut-miskin-di-akhirat/' addthis:title='Takut Miskin di Akhirat '  ><a class="addthis_button_facebook_like" fb:like:layout="button_count"></a><a class="addthis_button_tweet"></a><a class="addthis_button_google_plusone" g:plusone:size="medium"></a><a class="addthis_counter addthis_pill_style"></a></div><p><img src="http://www.purwakarta.org/wp-content/uploads/2007/03/mtr.jpg" border="0" alt="mtr.jpg" align="left" />Mengingat harga-harga barang kebutuhan terus meningkat, seorang pemuda selalu mengeluh karena tak mampu memenuhi kebutuhan hidupnya. Setelah berdiskusi dengan seorang kiai makrifat, pemuda itu pun mengikuti anjurannya untuk menjalankan shalat Hajat serta tetap istiqomah melaksanakan shalat wajib lima waktu.</p>

<div></div>

<p>&#8221;Pak Kiai, tiga tahun sudah saya menjalankan ibadah sesuai anjuran Bapak. Setiap hari saya shalat Hajat semata-mata agar Allah <span class="caps">SWT </span>melimpahkan rezeki yang cukup. Namun, sampai saat ini saya masih saja miskin,&#8221; keluh si pemuda.</p>

<div></div>

<p>&#8221;Teruskanlah dan jangan berhenti, Allah selalu mendengar doamu. Suatu saat nanti pasti Allah mengabulkannya. Bersabarlah!&#8221; Jawab sang kiai.</p>

<p><span></span>&#8221;Bagaimana saya bisa bersabar, kalau semua harga kebutuhan serba naik! Sementara saya masih juga belum mendapat rezeki yang memadai. Bagaimana saya bisa memenuhi kebutuhan hidup?&#8221;</p>

<div></div>

<p>&#8221;Ya tentu saja tetap dari Allah, pokoknya sabar, pasti ada jalan keluarnya. Teruslah beribadah.&#8221;</p>

<div></div>

<p>&#8221;Percuma saja Pak Kiai. Setiap hari shalat lima waktu, shalat Hajat, shalat Dhuha, tapi Allah belum juga mengabulkan permohonan saya. Lebih baik saya berhenti saja beribadah&#8230;&#8221; jawab pemuda itu dengan kesal.</p>

<div></div>

<p>&#8221;Kalau begitu, ya sudah. Pulang saja. Semoga Allah segera menjawab permintaanmu,&#8221; timpal kiai dengan ringan.</p>

<div></div>

<p>Pemuda itu pun pulang. Rasa kesal masih menggelayuti hatinya hingga tiba di rumah. Ia menggerutu tak habis-habisnya hingga tertidur pulas di kursi serambi. Dalam tidur itu, ia bermimpi masuk ke dalam istana yng sangat luas, berlantaikan emas murni, dihiasi dengan lampu-lampu terbuat dari intan permata. Bahkan beribu wanita cantik jelita menyambutnya. Seorang permaisuri yang sangat cantik dan bercahaya mendekati si pemuda.</p>

<div></div>

<p>&#8221;Anda siapa?&#8221; tanya pemuda.<br />
&#8221;Akulah pendampingmu di hari akhirat nanti.&#8221;<br /><br />
&#8221;Ohh&#8230; lalu ini istana siapa?&#8221;<br /><br />
&#8221;Ini istanamu, dari Allah. Karena pekerjaan ibadahmu di dunia.&#8221;<br /><br />
&#8221;Ohh&#8230; dan taman-taman yang sangat indah ini juga punya saya?&#8221;<br /><br />
&#8221;Betul!&#8221;<br /><br />
&#8221;Lautan madu, lautan susu, dan lautan permata juga milik saya?&#8221;<br /><br />
&#8221;Betul sekali.&#8221;</p>

<div></div>

<p>Sang pemuda begitu mengagumi keindahan suasana syurga yang sangat menawan dan tak tertandingi. Namun, tiba-tiba ia terbangun dan mimpi itu pun hilang. Tak disangka, ia melihat tujuh mutiara sebesar telor bebek. Betapa senang hati pemuda itu dan ingin menjual mutiara-mutiara tersebut. Ia pun menemui sang kiai sebelum pergi ke tempat penjualan mutiara.<br />
&#8216;</p>

<div></div>

<p>&#8216;Pak Kiai, setelah bermimpi saya mendapati tujuh mutiara yang sangat indah ini. Akhirnya Allah menjawab doa saya,&#8221; kata pemuda penuh keriangan.</p>

<div></div>

<p>&#8221;Alhamdulillah. Tapi perlu kamu ketahui bahwa tujuh mutiara itu adalah pahala-pahala ibadah yang kamu jalankan selama 3 tahun lalu.&#8221;</p>

<div></div>

<p>&#8221;Ini pahala-pahala saya? Lalu bagaimana dengan syurga saya Pak Kiai?&#8221;<br />
&#8221;Tidak ada, karena Allah sudah membayar semua pekerjaan ibadahmu. Mudah-mudahan kamu bahagia di dunia ini. Dengan tujuh mutiara itu kamu bisa menjadi miliader.&#8221;</p>

<div></div>

<p>&#8221;Ya Allah, aku tidak mau mutiara-mutiara ini. Lebih baik aku miskin di dunia ini daripada miskin di akhirat nanti. Ya Allah kumpulkan kembali mutiara-mutiara ini dengan amalan ibadah lainnya sampai aku meninggal nanti,&#8221; ujar pemuda itu sadar diri. Tujuh mutiara yang berada di depannya itu hilang seketika. Ia berjanji tak akan mengeluh dan menjalani ibadah lebih baik lagi demi kekayaan akhirat kelak. [dari guyon orang-orang makrifat, wibi ar].</p><div class="addthis_toolbox addthis_default_style addthis_32x32_style" addthis:url='http://www.purwakarta.org/index.php/2007/03/03/takut-miskin-di-akhirat/' addthis:title='Takut Miskin di Akhirat ' ><a class="addthis_button_preferred_1"></a><a class="addthis_button_preferred_2"></a><a class="addthis_button_preferred_3"></a><a class="addthis_button_preferred_4"></a><a class="addthis_button_compact"></a></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.purwakarta.org/index.php/2007/03/03/takut-miskin-di-akhirat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>12</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kembalikan Semua Kepada-Nya</title>
		<link>http://www.purwakarta.org/index.php/2007/03/03/kembalikan-semua-kepada-nya/</link>
		<comments>http://www.purwakarta.org/index.php/2007/03/03/kembalikan-semua-kepada-nya/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 03 Mar 2007 08:25:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>faiz</dc:creator>
				<category><![CDATA[Islami]]></category>
		<category><![CDATA[Lentera Hati]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.purwakarta.org/index.php/2007/03/03/kembalikan-semua-kepada-nya/</guid>
		<description><![CDATA[<div class="addthis_toolbox addthis_default_style " addthis:url='http://www.purwakarta.org/index.php/2007/03/03/kembalikan-semua-kepada-nya/' addthis:title='Kembalikan Semua Kepada-Nya '  ><a class="addthis_button_facebook_like" fb:like:layout="button_count"></a><a class="addthis_button_tweet"></a><a class="addthis_button_google_plusone" g:plusone:size="medium"></a><a class="addthis_counter addthis_pill_style"></a></div><div align="justify"><img title="ikhlas.jpg" mce_real_src="http://www.purwakarta.org/wp-content/uploads/2006/06/ikhlas.thumbnail.jpg" id="image213" src="http://www.purwakarta.org/wp-content/uploads/2006/06/ikhlas.thumbnail.jpg" alt="ikhlas.jpg" align="left"/>Bukankah Kami telah melapangkan untukmu dadamu, dan Kami telah menghilangkan daripadamu bebanmu, yang memberatkan punggungmu? Dan Kami tinggikan bagimu sebutanmu, Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Maka apabila kamu telah selesai, kerjakanlah dengan sungguh-sungguh yang lain, dan hanya kepada Tuhanmu-lah hendaknya kamu berharap. Demikian untaian firman Allah dalam QS Alam Nasyrah [94] ayat 1-8.</div><div class="addthis_toolbox addthis_default_style addthis_32x32_style" addthis:url='http://www.purwakarta.org/index.php/2007/03/03/kembalikan-semua-kepada-nya/' addthis:title='Kembalikan Semua Kepada-Nya ' ><a class="addthis_button_preferred_1"></a><a class="addthis_button_preferred_2"></a><a class="addthis_button_preferred_3"></a><a class="addthis_button_preferred_4"></a><a class="addthis_button_compact"></a></div>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="addthis_toolbox addthis_default_style " addthis:url='http://www.purwakarta.org/index.php/2007/03/03/kembalikan-semua-kepada-nya/' addthis:title='Kembalikan Semua Kepada-Nya '  ><a class="addthis_button_facebook_like" fb:like:layout="button_count"></a><a class="addthis_button_tweet"></a><a class="addthis_button_google_plusone" g:plusone:size="medium"></a><a class="addthis_counter addthis_pill_style"></a></div><div><img src="http://www.purwakarta.org/wp-content/uploads/2006/06/ikhlas.thumbnail.jpg" border="0" alt="ikhlas.jpg" align="left" />Bukankah Kami telah melapangkan untukmu dadamu, dan Kami telah menghilangkan daripadamu bebanmu, yang memberatkan punggungmu? Dan Kami tinggikan bagimu sebutanmu, Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Maka apabila kamu telah selesai, kerjakanlah dengan sungguh-sungguh yang lain, dan hanya kepada Tuhanmu-lah hendaknya kamu berharap. Demikian untaian firman Allah dalam QS Alam Nasyrah [94] ayat 1-8.

<p><br class="spacer_" /></p>

<p>Surat ini turun ketika Rasulullah <span class="caps">SAW </span>tengah menghadapi masa-masa tersulit dalam hidupnya. Ketika itu beliau ditinggal wafat istri dan pamannya, serta menghadapi boikot kejam dari kafirin Quraisy. Dengan rahmat dan kasih sayang-Nya, Allah <span class="caps">SWT </span>menghibur dan melapangkan dada beliau dengan turunnya rangkaian ayat ini.</p>

<p><span></span>Saudaraku, orang-orang yang dilapangkan hatinya oleh Allah Azza wa Jalla adalah orang yang tidak cinta dunia, tapi cinta kepada kehidupan abadi di akhirat kelak. Ia hanya berpikir untuk menyiapkan diri menghadapi kematian, sehingga meraih husnul khatimah. Jadi, saat kita merasa berat dan susah menghadapi hidup, coba tanyakan hati kita, apakah hati didominasi cinta dunia? Di mana fokus hidup serta perhatian hanya tertuju ke sana, sehingga tidak ada tempat (atau hanya sedikit tempat) bagi Allah.</p>

<p>Kata &lt;I&gt;ousry&lt;I&gt; berarti kesulitan yang begitu hebat. Tapi justru kesulitan ini selalu diapit dua kelapangan dan kemudahan. Saya mendapat <span class="caps">SMS </span>dari seorang sahabat. Berikut petikkannya, &#8220;Kehangatan hanya bisa kunikmati jika aku pernah kedinginan. Cahaya hanya bisa menyinari jika aku pernah berada dalam kegelapan. Bahagia hanya bisa aku syukuri bila aku pernah ada dalam kesulitan. Ya Rabb, terima kasih Engkau telah memberiku kesempatan untuk mensyukuri semua berkah dan karunia-Mu. Jika Engkau tidak pernah memberiku kedinginan, kegelapan, dan kesedihan, mungkin akan selalu mengabaikan nikmat semua yang Engkau berikan kepada kami. Mungkin kami menjadi manusia yang kufur nikmat. Dan tanpa kami sadari kami berjalan jauh dari-Mu. Terus ingatkan kami ya Allah. Jangan biarkan kenikmatan melalaikan kami dari mengingat-Mu, karena tiada tujuan kami selain untuk bertemu dengan-Mu.&#8221;</p>

<p>Saudaraku, saat kita menghadapi kesempitan hidup, lalu mengembalikan semua kepada Allah, insya Allah kemudahan akan segera datang. Hujan tak selamanya turun, ada saatnya berhenti. Badai pun pasti berlalu. Hidup adalah perjuangan. Sedangkan tidak ada perjuangan yang mudah, dan setiap perjuangan pasti butuh pengorbanan.</p>

<p>Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan ke luar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (yang dikehendaki) Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu. Demikian janji Al Khaliq dalam QS Ath Thalaaq [65] ayat 2-3. Wallaahu &#8216;alam. Aa Gym.</p></div><div class="addthis_toolbox addthis_default_style addthis_32x32_style" addthis:url='http://www.purwakarta.org/index.php/2007/03/03/kembalikan-semua-kepada-nya/' addthis:title='Kembalikan Semua Kepada-Nya ' ><a class="addthis_button_preferred_1"></a><a class="addthis_button_preferred_2"></a><a class="addthis_button_preferred_3"></a><a class="addthis_button_preferred_4"></a><a class="addthis_button_compact"></a></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.purwakarta.org/index.php/2007/03/03/kembalikan-semua-kepada-nya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ilmu Pembersih Hati</title>
		<link>http://www.purwakarta.org/index.php/2007/03/02/ilmu-pembersih-hati/</link>
		<comments>http://www.purwakarta.org/index.php/2007/03/02/ilmu-pembersih-hati/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 02 Mar 2007 12:29:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>faiz</dc:creator>
				<category><![CDATA[Islami]]></category>
		<category><![CDATA[Lentera Hati]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.purwakarta.org/index.php/2007/03/02/ilmu-pembersih-hati/</guid>
		<description><![CDATA[<div class="addthis_toolbox addthis_default_style " addthis:url='http://www.purwakarta.org/index.php/2007/03/02/ilmu-pembersih-hati/' addthis:title='Ilmu Pembersih Hati '  ><a class="addthis_button_facebook_like" fb:like:layout="button_count"></a><a class="addthis_button_tweet"></a><a class="addthis_button_google_plusone" g:plusone:size="medium"></a><a class="addthis_counter addthis_pill_style"></a></div>Ada sebait do&#8217;a yang pernah diajarkan Rasulullah SAW dan disunnahkan untuk dipanjatkan kepada Allah Azza wa Jalla sebelum seseorang hendak belajar. do&#8217;a tersebut berbunyi : Allaahummanfa&#8217;nii bimaa allamtanii wa&#8217;allimnii maa yanfa&#8217;uni wa zidnii ilman maa yanfa&#8217;unii. Dengan do&#8217;a ini seorang hamba berharap dikaruniai oleh-Nya ilmu yang bermamfaat. Apakah hakikat ilmu yang bermamfaat itu? Secara syariat, [...]<div class="addthis_toolbox addthis_default_style addthis_32x32_style" addthis:url='http://www.purwakarta.org/index.php/2007/03/02/ilmu-pembersih-hati/' addthis:title='Ilmu Pembersih Hati ' ><a class="addthis_button_preferred_1"></a><a class="addthis_button_preferred_2"></a><a class="addthis_button_preferred_3"></a><a class="addthis_button_preferred_4"></a><a class="addthis_button_compact"></a></div>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="addthis_toolbox addthis_default_style " addthis:url='http://www.purwakarta.org/index.php/2007/03/02/ilmu-pembersih-hati/' addthis:title='Ilmu Pembersih Hati '  ><a class="addthis_button_facebook_like" fb:like:layout="button_count"></a><a class="addthis_button_tweet"></a><a class="addthis_button_google_plusone" g:plusone:size="medium"></a><a class="addthis_counter addthis_pill_style"></a></div><div><img src="http://www.purwakarta.org/wp-content/uploads/2007/03/ilmu.thumbnail.jpg" border="0" alt="ilmu.jpg" align="left" />Ada sebait do&#8217;a yang pernah diajarkan Rasulullah <span class="caps">SAW </span>dan disunnahkan untuk dipanjatkan kepada Allah Azza wa Jalla sebelum seseorang hendak belajar. do&#8217;a tersebut berbunyi : Allaahummanfa&#8217;nii bimaa allamtanii wa&#8217;allimnii maa yanfa&#8217;uni wa zidnii ilman maa yanfa&#8217;unii. Dengan do&#8217;a ini seorang hamba berharap dikaruniai oleh-Nya ilmu yang bermamfaat. Apakah hakikat ilmu yang bermamfaat itu? Secara syariat, suatu ilmu disebut bermamfaat apabila mengandung mashlahat &#8211; memiliki nilai-nilai kebaikan bagi sesama manusia ataupun alam. Akan tetapi, mamfaat tersebut menjadi kecil artinya bila ternyata tidak membuat pemiliknya semakin merasakan kedekatan kepada Dzat Maha Pemberi Ilmu, Allah Azza wa Jalla. Dengan ilmunya ia mungkin meningkat derajat kemuliaannya di mata manusia, tetapi belum tentu meningkat pula di hadapan-Nya.</div>
<div><span></span>Oleh karena itu, dalam kacamata ma&#8217;rifat, gambaran ilmu yang bermamfaat itu sebagaimana yang pernah diungkapkan oleh seorang ahli hikmah. &#8220;Ilmu yang berguna,&#8221; ungkapnya, &#8220;ialah yang meluas di dalam dada sinar cahayanya dan membuka penutup hati.&#8221; seakan memperjelas ungkapan ahli hikmah tersebut, Imam Malik bin Anas r.a. berkata, &#8220;Yang bernama ilmu itu bukanlah kepandaian atau banyak meriwayatkan (sesuatu), melainkan hanyalah nuur yang diturunkan Allah ke dalam hati manusia. Adapun bergunanya ilmu itu adalah untuk mendekatkan manusia kepada Allah dan menjauhkannya dari kesombongan diri.&#8221; Ilmu itu hakikatnya adalah kalimat-kalimat Allah Azza wa Jalla. Terhadap ilmunya sungguh tidak akan pernah ada satu pun makhluk di jagat raya ini yang bisa mengukur Kemahaluasan-Nya. sesuai dengan firman-Nya, &#8220;Katakanlah : Kalau sekiranya lautan menjadi tinta untuk (menuliskan) kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis (dituliskan) kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula).&#8221; (QS. Al Kahfi [18] : 109). Adapun ilmu yang dititipkan kepada manusia mungkin tidak lebih dari setitik air di tengah samudera luas. Kendatipun demikian, barangsiapa yang dikaruniai ilmu oleh Allah, yang dengan ilmu tersebut semakin bertambah dekat dan kian takutlah ia kepada-Nya, niscaya &#8220;Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.&#8221; (QS. Al Mujadilah [58] : 11). Sungguh janji Allah itu tidak akan pernah meleset sedikit pun! Akan tetapi, walaupun hanya &#8220;setetes&#8221; ilmu Allah yang dititipkan kepada mnusia, namun sangat banyak ragamnya. ilmu itu baik kita kaji sepanjang membuat kita semakin takut kepada Allah. Inilah ilmu yang paling berkah yang harus kita cari. sepanjang kita menuntut ilmu itu jelas (benar) niat maupun caranya, niscaya kita akan mendapatkan manfaat darinya.</div>
<div><p>cahayanya dapat meluas di dalam dada serta dapat membuka penutup hati? Imam Syafii ketika masih menuntut ilmu, pernah mengeluh kepada gurunya. &#8220;Wahai, Guru. Mengapa ilmu yang sedang kukaji ini susah sekali memahaminya dan bahkan cepat lupa?&#8221; Sang guru menjawab, &#8220;Ilmu itu ibarat cahaya. Ia hanya dapat menerangi gelas yang bening dan bersih.&#8221; Artinya, ilmu itu tidak akan menerangi hati yang keruh dan banyak maksiatnya. Karenanya, jangan heran kalau kita dapati ada orang yang rajin mendatangi majelis-majelis ta&#8217;lim dan pengajian, tetapi akhlak dan perilakunya tetap buruk. Mengapa demikian? itu dikarenakan hatinya tidak dapat terterangi oleh ilmu. Laksana air kopi yang kental dalam gelas yang kotor. Kendati diterangi dengan cahaya sekuat apapun, sinarnya tidak akan bisa menembus dan menerangi isi gelas. Begitulah kalau kita sudah tamak dan rakus kepada dunia serta gemar maksiat, maka sang ilmu tidak akan pernah menerangi hati. Padahal kalau hati kita bersih, ia ibarat gelas yang bersih diisi dengan air yang bening. Setitik cahaya pun akan mampu menerangi seisi gelas. Walhasil, bila kita menginginkan ilmu yang bisa menjadi ladang amal shalih, maka usahakanlah ketika menimbanya, hati kita selalu dalam keadaan bersih. hati yang bersih adalah hati yang terbebas dari ketamakan terhadap urusan dunia dan tidak pernah digunakan untuk menzhalimi sesama. Semakin hati bersih, kita akan semakin dipekakan oleh Allah untuk bisa mendapatkan ilmu yang bermamfaat. darimana pun ilmu itu datangnya. Disamping itu, kita pun akan diberi kesanggupan untuk menolak segala sesuatu yang akan membawa mudharat. Sebaik-baik ilmu adalah yang bisa membuat hati kita bercahaya. Karenanya, kita wajib menuntut ilmu sekuat-kuatnya yang membuat hati kita menjadi bersih, sehingga ilmu-ilmu yang lain (yang telah ada dalam diri kita) menjadi bermamfaat. Bila mendapat air yang kita timba dari sumur tampak keruh, kita akan mencari tawas (kaporit) untuk menjernihkannya. Demikian pun dalam mencari ilmu. Kita harus mencari ilmu yang bisa menjadi &#8220;tawas&#8221;-nya supaya kalau hati sudah bening, ilmu-ilmu lain yang kita kaji bisa diserap seraya membawa manfaat. Mengapa demikian? Sebab dalam mengkaji ilmu apapun kalau kita sebagai penampungnya dalam keadaan kotor dan keruh, maka tidak bisa tidak ilmu yang didapatkan hanya akan menjadi alat pemuas nafsu belaka. Sibuk mengkaji ilmu fikih, hanya akan membuat kita ingin menang sendiri, gemar menyalahkan pendapat orang lain, sekaligus aniaya dan suka menyakiti hati sesama. Demikian juga bila mendalami ilmu ma&#8217;rifat. Sekiranya dalam keadan hati busuk, jangan heran kalau hanya membuat diri kita takabur, merasa diri paling shalih, dan menganggap orang lain sesat. Oleh karena itu, tampaknya menjadi fardhu ain hukumnya untuk mengkaji ilmu kesucian hati dalam rangka ma&#8217;rifat, mengenal Allah. Datangilah majelis pengajian yang di dalamnya kita dibimbing untuk riyadhah, berlatih mengenal dan berdekat-dekat dengan Allah Azza wa Jalla. Kita selalu dibimbing untuk banyak berdzikir, mengingat Allah dan mengenal kebesaran-Nya, sehingga sadar betapa teramat kecilnya kita ini di hadapan-Nya.</p>

<p>Kita lahir ke dunia tidak membawa apa-apa dan bila datang saat ajal pun pastilah tidak membawa apa-apa. Mengapa harus ujub, riya, takabur, dan sum&#8217;ah. Merasa diri besar, sedangkan yang lain kecil. Merasa diri lebih pintar sedangkan yang lain bodoh. Itu semua hanya karena sepersekian dari setetes ilmu yang kita miliki? Padahal, bukankah ilmu yang kita miliki pada hakikatnya adalah titipan Allah juga, yang sama sekali tidak sulit bagi-Nya untuk mengambilnya kembali dari kita? Subhanallaah! Mudah-mudahan kita dimudahkan oleh-Nya untuk mendapatkan ilmu yang bisa menjadi penerang dalam kegelapan dan menjadi jalan untuk dapat lebih bertaqarub kepada-Nya. Ref: Aa Gym.</p></div><div class="addthis_toolbox addthis_default_style addthis_32x32_style" addthis:url='http://www.purwakarta.org/index.php/2007/03/02/ilmu-pembersih-hati/' addthis:title='Ilmu Pembersih Hati ' ><a class="addthis_button_preferred_1"></a><a class="addthis_button_preferred_2"></a><a class="addthis_button_preferred_3"></a><a class="addthis_button_preferred_4"></a><a class="addthis_button_compact"></a></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.purwakarta.org/index.php/2007/03/02/ilmu-pembersih-hati/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>21</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jujur, Cakap, dan Kreatif-Inovatif</title>
		<link>http://www.purwakarta.org/index.php/2007/01/10/jujur-cakap-dan-kreatif-inovatif/</link>
		<comments>http://www.purwakarta.org/index.php/2007/01/10/jujur-cakap-dan-kreatif-inovatif/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 09 Jan 2007 19:19:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>faiz</dc:creator>
				<category><![CDATA[Islami]]></category>
		<category><![CDATA[Lentera Hati]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.purwakarta.org/index.php/2007/01/10/jujur-cakap-dan-kreatif-inovatif/</guid>
		<description><![CDATA[<div class="addthis_toolbox addthis_default_style " addthis:url='http://www.purwakarta.org/index.php/2007/01/10/jujur-cakap-dan-kreatif-inovatif/' addthis:title='Jujur, Cakap, dan Kreatif-Inovatif '  ><a class="addthis_button_facebook_like" fb:like:layout="button_count"></a><a class="addthis_button_tweet"></a><a class="addthis_button_google_plusone" g:plusone:size="medium"></a><a class="addthis_counter addthis_pill_style"></a></div>Ada tiga kunci yang harus kita miliki untuk membangun kredibilitas. Itu ialah, jujur, cakap, dan kreatif-inovatif. Lalu, mengapa harus jujur? Logikanya, orang yang jujur tak mungkin berbohong. Apabila ia berkata A maka yang terlihat adalah A bukan B, C, D, dan seterusnya. Orang yang jujur mustahil munafik. Karena itu ia, selain tak mudah berbohong, ia [...]<div class="addthis_toolbox addthis_default_style addthis_32x32_style" addthis:url='http://www.purwakarta.org/index.php/2007/01/10/jujur-cakap-dan-kreatif-inovatif/' addthis:title='Jujur, Cakap, dan Kreatif-Inovatif ' ><a class="addthis_button_preferred_1"></a><a class="addthis_button_preferred_2"></a><a class="addthis_button_preferred_3"></a><a class="addthis_button_preferred_4"></a><a class="addthis_button_compact"></a></div>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="addthis_toolbox addthis_default_style " addthis:url='http://www.purwakarta.org/index.php/2007/01/10/jujur-cakap-dan-kreatif-inovatif/' addthis:title='Jujur, Cakap, dan Kreatif-Inovatif '  ><a class="addthis_button_facebook_like" fb:like:layout="button_count"></a><a class="addthis_button_tweet"></a><a class="addthis_button_google_plusone" g:plusone:size="medium"></a><a class="addthis_counter addthis_pill_style"></a></div><div><img class="alignleft" style="border: 0pt none" src="http://www.purwakarta.org/wp-content/uploads/2007/01/kreatif.thumbnail.jpg" border="0" alt="kreatif.jpg" width="73" height="96" /></div>
<div>Ada tiga kunci yang harus kita miliki untuk membangun kredibilitas. Itu ialah, jujur, cakap, dan kreatif-inovatif. Lalu, mengapa harus jujur? Logikanya, orang yang jujur tak mungkin berbohong. Apabila ia berkata A maka yang terlihat adalah A bukan B, C, D, dan seterusnya.

<p><br class="spacer_" /></p>

<p><br class="spacer_" /></p>

<p>Orang yang jujur mustahil munafik. Karena itu ia, selain tak mudah berbohong, ia pun akan berusaha menepati janji dan tergolong amanah. Dalam hal ini, kejujuran merupakan persoalan karakter. Sehingga untuk berlaku jujur dibutuhkan pembiasaan terutama sejak kecil. Jadi, apa salahnya bila kita jujur? Untuk menopang kejujuran jelas ada hal lain yang harus dipenuhi.</p>

<p><span></span>Itulah yang disebut cakap. Orang yang cakap tidak berarti ia harus mampu dalam hal-hal teknis. Kalau saja ia mampu mengelola orang ia juga bisa dikatakan cakap. Dan untuk bisa cakap, maka diri harus sering dilatih, wawasan dan keterampilan dikembangkan secara kontinu dan sistematis sehingga memiliki kesiapan memadai dalam menghadapi hidup. Dengan cara ini, kelalaian dan kecerobohan sebagai biang kesalahan dan kegagalan dapat diminimalisasi.</p>

<p>Nilai lebih kejujuran dan kecakapan akhirnya terbangun dengan kreasi dan inovasi. Bisa jadi ada orang yang jujur dan cakap, namun sedikitpun ia tidak kreatif-inovatif. Sebaliknya ada yang kreatif maupun inovatif tetapi ia tidak jujur dan cakap. Kreatif dan inovatif bisa memunculkan prestasi. Akan tetapi prestasi itu sendiri harus ditunjang oleh karakter individunya sendiri.</p>

<p>Karenanya, bila ketiga hal yang tampak sepele ini tak ada pada seseorang, maka kredibilitasnya patut dipertanyakan. mns/mqp.</p>

<p><br class="spacer_" /></p></div><div class="addthis_toolbox addthis_default_style addthis_32x32_style" addthis:url='http://www.purwakarta.org/index.php/2007/01/10/jujur-cakap-dan-kreatif-inovatif/' addthis:title='Jujur, Cakap, dan Kreatif-Inovatif ' ><a class="addthis_button_preferred_1"></a><a class="addthis_button_preferred_2"></a><a class="addthis_button_preferred_3"></a><a class="addthis_button_preferred_4"></a><a class="addthis_button_compact"></a></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.purwakarta.org/index.php/2007/01/10/jujur-cakap-dan-kreatif-inovatif/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mengenai Hidayah</title>
		<link>http://www.purwakarta.org/index.php/2007/01/10/mengenai-hidayah/</link>
		<comments>http://www.purwakarta.org/index.php/2007/01/10/mengenai-hidayah/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 09 Jan 2007 19:09:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>faiz</dc:creator>
				<category><![CDATA[Islami]]></category>
		<category><![CDATA[Lentera Hati]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.purwakarta.org/index.php/2007/01/10/mengenai-hidayah/</guid>
		<description><![CDATA[<div class="addthis_toolbox addthis_default_style " addthis:url='http://www.purwakarta.org/index.php/2007/01/10/mengenai-hidayah/' addthis:title='Mengenai Hidayah '  ><a class="addthis_button_facebook_like" fb:like:layout="button_count"></a><a class="addthis_button_tweet"></a><a class="addthis_button_google_plusone" g:plusone:size="medium"></a><a class="addthis_counter addthis_pill_style"></a></div>Almarhum Buya Hamka (semoga Allah memuliakan dan merahmatinya) pernah menggambarkan hidayah itu seperti pesawat terbang. Kalau landasannya sederhana, bisa jadi yang mendaratnya akan seperti helikopter. Jika landasannya agak bagus, kira-kira pesawat sejenis capung yang akan mendarat. Kalau makin baik lagi landasannya, minimal sekelas pesawat twin otter akan mendarat. Begitu pun semakin mantap dan khas landasannya, [...]<div class="addthis_toolbox addthis_default_style addthis_32x32_style" addthis:url='http://www.purwakarta.org/index.php/2007/01/10/mengenai-hidayah/' addthis:title='Mengenai Hidayah ' ><a class="addthis_button_preferred_1"></a><a class="addthis_button_preferred_2"></a><a class="addthis_button_preferred_3"></a><a class="addthis_button_preferred_4"></a><a class="addthis_button_compact"></a></div>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="addthis_toolbox addthis_default_style " addthis:url='http://www.purwakarta.org/index.php/2007/01/10/mengenai-hidayah/' addthis:title='Mengenai Hidayah '  ><a class="addthis_button_facebook_like" fb:like:layout="button_count"></a><a class="addthis_button_tweet"></a><a class="addthis_button_google_plusone" g:plusone:size="medium"></a><a class="addthis_counter addthis_pill_style"></a></div><div><img class="alignleft" style="border: 1px solid black" src="http://www.purwakarta.org/wp-content/uploads/2007/01/hidayah.jpg" border="1" alt="hidayah.jpg" width="111" height="89" /></div>
<div>
<div>Almarhum Buya Hamka (semoga Allah memuliakan dan merahmatinya) pernah menggambarkan hidayah itu seperti pesawat terbang. Kalau landasannya sederhana, bisa jadi yang mendaratnya akan seperti helikopter. Jika landasannya agak bagus, kira-kira pesawat sejenis capung yang akan mendarat. Kalau makin baik lagi landasannya, minimal sekelas pesawat twin otter akan mendarat. Begitu pun semakin mantap dan khas landasannya, maka bisa jadi pesawat cassa atau jumbo jetlah yang bakal parkir.

<p><br class="spacer_" /></p>

<p>Ujaran Buya itu paling tidak bisa kita maknai begini. Apabila seseorang merindukan hidayah dari Allah Azza wa Jalla, maka yang pertama-tama hendaknya ia kerjakan tak lain ialah menyiapkan dirinya untuk &#8220;didarati&#8221; oleh hidayah tersebut. Semakin ia membersihkan dirinya, semakin cantik dan apiklah kira-kira &#8220;landasan hati&#8221; untuk didarati oleh hidayah itu. Begitu pula ketika landasan hati itu telah tertata sedemikian rupa, bukan hal yang mustahil &#8220;pesawat-pesawat hidayah&#8221; akan banyak parkir di hati seseorang.</p>

<p><strong><span></span>Berusaha Bersih</strong></p>

<p>Lihatlah cermin kotor. Apa yang terlintas dari benak kita? Yang pasti wajah kita takkan tampak saat kita becermin. Sehingga, bagaimana mungkin kita bisa melihat wajah tampan atau cantik kita, sebuah wajah yang membuat kita berseri. Islam, melalui ritual shalat, sebenarnya telah mengajarkan pada kita untuk hidup bersih. Perhatikan prosesinya. Dimulai dari tata cara wudhu, terutama diarahkan pada segi-segi tubuh yang banyak aktivitasnya. Dari tangan, wajah, ujung rambut, hingga ujung kaki.</p>

<p>Kemudian dalam hal berpakaian saat shalat, dianjurkan pula yang terbaik pakaian yang kita pakai. Sebab yang kita hadapi adalah Raja Semesta Alam. Penguasa langit dan bumi. Pemberi rezeki. Penggenggam nyawa kita.</p>

<p>Sewaktu shalat pun disarankan dengan sangat untuk tumakninah &#8211;tertib, runtut dan tidak tergesa-gesa. Semua ucapan dalam shalat didawamkan sebenar-benarnya dengan penuh ketawadhuan. Semuanya dikerjakan sesadar-sadarnya hingga berakhir dengan salam. Dari awal dimulai dengan kebersihan, diakhirinya pun bersih.</p>

<p><br class="spacer_" /></p></div>
<div>Dalam kehidupan sehari-hari pun seorang Muslim hendaknya hidup dalam kebersihan. Bersih dari perilaku curang. Bersih dari dusta. Bersih dari kezaliman. Bersih dari khianat atau kemunafikan. Dan itu semua bermula dari niat dan tekad kita untuk senantiasa membersihkan hati dari semua potensi yang memungkinkannya terkotori. mns/mqp.</div>

<p><br class="spacer_" /></p></div><div class="addthis_toolbox addthis_default_style addthis_32x32_style" addthis:url='http://www.purwakarta.org/index.php/2007/01/10/mengenai-hidayah/' addthis:title='Mengenai Hidayah ' ><a class="addthis_button_preferred_1"></a><a class="addthis_button_preferred_2"></a><a class="addthis_button_preferred_3"></a><a class="addthis_button_preferred_4"></a><a class="addthis_button_compact"></a></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.purwakarta.org/index.php/2007/01/10/mengenai-hidayah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dahsyatnya Sedekah</title>
		<link>http://www.purwakarta.org/index.php/2006/09/07/dahsyatnya-sedekah/</link>
		<comments>http://www.purwakarta.org/index.php/2006/09/07/dahsyatnya-sedekah/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 07 Sep 2006 13:54:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>faiz</dc:creator>
				<category><![CDATA[Islami]]></category>
		<category><![CDATA[Lentera Hati]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.purwakarta.org/index.php/2006/09/07/dahsyatnya-sedekah/</guid>
		<description><![CDATA[<div class="addthis_toolbox addthis_default_style " addthis:url='http://www.purwakarta.org/index.php/2006/09/07/dahsyatnya-sedekah/' addthis:title='Dahsyatnya Sedekah '  ><a class="addthis_button_facebook_like" fb:like:layout="button_count"></a><a class="addthis_button_tweet"></a><a class="addthis_button_google_plusone" g:plusone:size="medium"></a><a class="addthis_counter addthis_pill_style"></a></div>Dimanakah letak kedahsyatan hamba-hamba Allah yang bersedekah?Dikisahkan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Turmudzi dan Ahmad,sebagai berikut : Tatkala Allah SWT menciptakan bumi, maka bumi pun bergetar. Lalu Allah pun menciptakan gunung dengan kekuatan yang telah diberikan kepadanya, ternyata bumi pun terdiam. Para malaikat terheran-heran akan penciptaan gunung tersebut. Kemudian mereka bertanya? &#8220;Ya Rabbi, adakah [...]<div class="addthis_toolbox addthis_default_style addthis_32x32_style" addthis:url='http://www.purwakarta.org/index.php/2006/09/07/dahsyatnya-sedekah/' addthis:title='Dahsyatnya Sedekah ' ><a class="addthis_button_preferred_1"></a><a class="addthis_button_preferred_2"></a><a class="addthis_button_preferred_3"></a><a class="addthis_button_preferred_4"></a><a class="addthis_button_compact"></a></div>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="addthis_toolbox addthis_default_style " addthis:url='http://www.purwakarta.org/index.php/2006/09/07/dahsyatnya-sedekah/' addthis:title='Dahsyatnya Sedekah '  ><a class="addthis_button_facebook_like" fb:like:layout="button_count"></a><a class="addthis_button_tweet"></a><a class="addthis_button_google_plusone" g:plusone:size="medium"></a><a class="addthis_counter addthis_pill_style"></a></div><p><img class="alignleft" style="border: 0pt none" src="http://www.purwakarta.org/wp-content/uploads/2006/09/gunung.thumbnail.jpg" border="0" alt="gunung.jpg" width="128" height="85" />Dimanakah letak kedahsyatan hamba-hamba Allah yang bersedekah?Dikisahkan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Turmudzi dan Ahmad,sebagai berikut :</p>

<div>Tatkala Allah <span class="caps">SWT </span>menciptakan bumi, maka bumi pun bergetar. Lalu Allah pun menciptakan gunung dengan kekuatan yang telah diberikan kepadanya, ternyata bumi pun terdiam. Para malaikat terheran-heran akan penciptaan gunung tersebut. Kemudian mereka bertanya? &#8220;Ya Rabbi, adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih kuat dari pada gunung?&#8221;</div>
<div>Allah menjawab, &#8220;Ada, yaitu besi&#8221; (Kita mafhum bahwa gunung batu pun bisa menjadi rata ketika dibor dan diluluhlantakkan oleh buldozer atau sejenisnya yang terbuat dari besi). Para malaikat pun kembali bertanya, &#8220;Ya Rabbi adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih kuat dari pada besi?&#8221;</div>
<div><span></span>Allah yang Mahasuci menjawab, &#8220;Ada, yaitu api&#8221; (Besi, bahkan baja bisa menjadi cair, lumer, dan mendidih setelah dibakar bara api). Bertanya kembali para malaikat, &#8220;Ya Rabbi adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih kuat dari pada api?&#8221; Allah yang Mahaagung menjawab, &#8220;Ada, yaitu air&#8221; (Api membara sedahsyat apapun, niscaya akan padam jika disiram oleh air).</div>
<div>&#8220;Ya Rabbi adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih kuat dari air?&#8221; Kembali bertanya para malaikat.<br />
 Allah yang Mahatinggi dan Mahasempurna menjawab, &#8220;Ada, yaitu angin&#8221; (Air di samudera luas akan serta merta terangkat, bergulung-gulung, dan menjelma menjadi gelombang raksasa yang dahsyat, tersimbah dan menghempas karang, atau mengombang-ambingkan kapal dan perahu yang tengah berlayar, tiada lain karena dahsyatnya kekuatan angin. Angin ternyata memiliki kekuatan yang teramat dahsyat).</div>
<div>Akhirnya para malaikat pun bertanya lagi, &#8220;Ya Allah adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih dari semua itu?&#8221; Allah yang Mahagagah dan Mahadahsyat kehebatan-Nya menjawab, &#8220;Ada, yaitu amal anak Adam yang mengeluarkan sedekah dengan tangan kanannya sementara tangan kirinya tidak mengetahuinya.&#8221; Artinya, orang yang paling hebat, paling kuat, dan paling dahsyat adalah orang yang bersedekah tetapi tetap mampu menguasai dirinya, sehingga sedekah yang dilakukannya bersih, tulus, dan ikhlas tanpa ada unsur pamer ataupun keinginan untuk diketahui orang lain.</div>
<div>Inilah gambaran yang Allah berikan kepada kita bagaimana seorang hamba yang ternyata mempunyai kekuatan dahsyat adalah hamba yang bersedekah, tetapi tetap dalam kondisi ikhlas. Karena naluri dasar kita sebenarnya selalu rindu akan pujian, penghormatan, penghargaan, ucapan terima kasih, dan sebagainya. Kita pun selalu tergelitik untuk memamerkan segala apa yang ada pada diri kita ataupun segala apa yang bisa kita lakukan. Apalagi kalau yang ada pada diri kita atau yang tengah kita lakukan itu berupa kebaikan.<br />
 Karenanya, tidak usah heran, seorang hamba yang bersedekah dengan ikhlas adalah orang-orang yang mempunyai kekuatan dahsyat. Sungguh ia tidak akan kalah oleh aneka macam selera rendah, yaitu rindu pujian dan penghargaan.</div>
<div>Apalagi kedahsyatan seorang hamba yang bersedekah dengan ikhlas? Pada suatu hari datang kepada seorang ulama dua orang akhwat yang mengaku baru kembali dari kampung halamannya di kawasan Jawa Tengah. Keduanya kemudian bercerita mengenai sebuah kejadian luar biasa yang dialaminya ketika pulang kampung dengan naik bis antar kota beberapa hari sebelumnya. Di tengah perjalanan bis yang ditumpanginya terkena musibah, bertabrakan dengan dahsyatnya. Seluruh penumpang mengalami luka berat. Bahkan para penumpang yang duduk di kurs-kursi di dekatnya meninggal seketika dengan bersimbah darah. Dari seluruh penumpang tersebut hanya dua orang yang selamat, bahkan tidak terluka sedikit pun. Mereka itu, ya kedua akhwat itulah. Keduanya mengisahkan kejadian tersebut dengan menangis tersedu-sedu penuh syukur.</div>
<div>Mengapa mereka ditakdirkan Allah selamat tidak kurang suatu apa? Menurut pengakuan keduanya, ada dua amalan yang dikerjakan keduanya ketika itu, yakni ketika hendak berangkat mereka sempat bersedekah terlebih dahulu dan selama dalam perjalanan selalu melafazkan zikir. Sahabat, tidaklah kita ragukan lagi, bahwa inilah sebagian dari fadhilah (keutamaan) bersedekah. Allah pasti menurunkan balasannya disaat-saat sangat dibutuhkan dengan jalan yang tidak pernah disangka-sangka. Allah Azza wa Jalla adalah Zat yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang kepada semua hamba-Nya. Bahkan kepada kita yang pada hampir setiap desah nafas selalu membangkang terhadap perintah-Nya pada hampir setiap gerak-gerik kita tercermin amalan yang dilarang-Nya, toh Dia tetap saja mengucurkan rahmat-Nya yang tiada terkira.</div>
<div>Segala amalan yang kita perbuat, amal baik ataupun amal buruk, semuanya akan terpulang kepada kita. Demikian juga jika kita berbicara soal harta yang kini ada dalam genggaman kita dan kerapkali membuat kita lalai dan alpa. Demi Allah, semua ini datangnya dari Allah yang Maha Pemberi Rizki dan Mahakaya. Dititipkan-Nya kepada kita tiada lain supaya kita bisa beramal dan bersedekah dengan sepenuh ke-ikhlas-an semata-mata karena Allah. Kemudian pastilah kita akan mendapatkan balasan pahala dari pada-Nya, baik ketika di dunia ini maupun saat menghadap-Nya kelak. Dari pengalaman kongkrit kedua akhwat ataupun kutipan hadits seperti diuraikan di atas, dengan penuh kayakinan kita dapat menangkap bukti yang dijanjikan Allah <span class="caps">SWT </span>dan Rasul-Nya, bahwa sekecil apapun harta yang disedekahkan dengan ikhlas, niscaya akan tampak betapa dahsyat balasan dari-Nya.</div>
<div>Inilah barangkali kenapa Rasulullah menyerukan kepada para sahabatnya yang tengah bersiap pergi menuju medan perang Tabuk, agar mengeluarkan infaq dan sedekah. Apalagi pada saat itu Allah menurunkan ayat tentang sedekah kepada Rasulullah <span class="caps">SAW, </span>&#8220;Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah seupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir; seratus biji Allah melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Mahaluas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui,&#8221; demikian firman-Nya (QS. Al-Baqarah [2] : 261).</div>
<div>Seruan Rasulullah itu disambut seketika oleh Abdurrahman bin Auf dengan menyerahkan empat ribu dirham seraya berkata, &#8220;Ya, Rasulullah. Harta milikku hanya delapan ribu dirham. Empat ribu dirham aku tahan untuk diri dan keluargaku, sedangkan empat ribu dirham lagi aku serahkan di jalan Allah.&#8221; &#8220;Allah memberkahi apa yang engkau tahan dan apa yang engkau berikan,&#8221; jawab Rasulullah. Kemudian datang sahabat lainnya, Usman bin Affan. &#8220;Ya, Rasulullah. Saya akan melengkapi peralatan dan pakaian bagi mereka yang belum mempunyainya,&#8221; ujarnya.</div>
<div>Adapun Ali bin Abi Thalib ketika itu hanya memiliki empat dirham. Ia pun segera menyedekahkan satu dirham waktu malam, satu dirham saat siang hari, satu dirham secara terang-terangan, dan satu dirham lagi secara diam-diam.<br />
 Mengapa para sahabat begitu antusias dan spontan menyambut seruan Rasulullah tersebut? Ini tiada lain karena yakin akan balasan yang berlipat ganda sebagaimana telah dijanjikan Allah dan Rasul-Nya. Medan perang adalah medan pertaruhan antara hidup dan mati. Kendati begitu para sahabat tidak ada yang mendambakan mati syahid di medan perang, karena mereka yakin apapun yang terjadi pasti akan sangat menguntungkan mereka. Sekiranya gugur di tangan musuh, surga Jannatu na&acirc;im telah siap menanti para hamba Allah yang selalu siap berjihad fii sabilillaah. Sedangkan andaikata selamat dapat kembali kepada keluarga pun, pastilah dengan membawa kemenangan bagi Islam, agama yang haq!</div>
<div>Lalu, apa kaitannya dengan memenuhi seruan untuk bersedekah? Sedekah adalah penolak bala, penyubur pahala dan pelipat ganda rizki; sebutir benih menumbuhkan tujuh bulir, yang pada tiap-tiap bulir itu terjurai seratus biji. Artinya, Allah yang Mahakaya akan membalasnya hingga tujuh ratus kali lipat. Masya Allah!</div>
<div>Sahabat, betapa dahsyatnya sedekah yang dikeluarkan di jalan Allah yang disertai dengan hati khlas, sampai-sampai Allah sendiri membuat perbandingan, sebagaimana tersurat dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik, seperti yang dikemukakan di awal tulisan ini.***</div>

<p><br class="spacer_" /></p>

<div><p>Oleh: Aa Gym.</p></div><div class="addthis_toolbox addthis_default_style addthis_32x32_style" addthis:url='http://www.purwakarta.org/index.php/2006/09/07/dahsyatnya-sedekah/' addthis:title='Dahsyatnya Sedekah ' ><a class="addthis_button_preferred_1"></a><a class="addthis_button_preferred_2"></a><a class="addthis_button_preferred_3"></a><a class="addthis_button_preferred_4"></a><a class="addthis_button_compact"></a></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.purwakarta.org/index.php/2006/09/07/dahsyatnya-sedekah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>15</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

