Ilmu Pembersih Hati
March 2nd, 2007
cahayanya dapat meluas di dalam dada serta dapat membuka penutup hati? Imam Syafii ketika masih menuntut ilmu, pernah mengeluh kepada gurunya. "Wahai, Guru. Mengapa ilmu yang sedang kukaji ini susah sekali memahaminya dan bahkan cepat lupa?" Sang guru menjawab, "Ilmu itu ibarat cahaya. Ia hanya dapat menerangi gelas yang bening dan bersih." Artinya, ilmu itu tidak akan menerangi hati yang keruh dan banyak maksiatnya. Karenanya, jangan heran kalau kita dapati ada orang yang rajin mendatangi majelis-majelis ta’lim dan pengajian, tetapi akhlak dan perilakunya tetap buruk. Mengapa demikian? itu dikarenakan hatinya tidak dapat terterangi oleh ilmu. Laksana air kopi yang kental dalam gelas yang kotor. Kendati diterangi dengan cahaya sekuat apapun, sinarnya tidak akan bisa menembus dan menerangi isi gelas. Begitulah kalau kita sudah tamak dan rakus kepada dunia serta gemar maksiat, maka sang ilmu tidak akan pernah menerangi hati. Padahal kalau hati kita bersih, ia ibarat gelas yang bersih diisi dengan air yang bening. Setitik cahaya pun akan mampu menerangi seisi gelas. Walhasil, bila kita menginginkan ilmu yang bisa menjadi ladang amal shalih, maka usahakanlah ketika menimbanya, hati kita selalu dalam keadaan bersih. hati yang bersih adalah hati yang terbebas dari ketamakan terhadap urusan dunia dan tidak pernah digunakan untuk menzhalimi sesama. Semakin hati bersih, kita akan semakin dipekakan oleh Allah untuk bisa mendapatkan ilmu yang bermamfaat. darimana pun ilmu itu datangnya. Disamping itu, kita pun akan diberi kesanggupan untuk menolak segala sesuatu yang akan membawa mudharat. Sebaik-baik ilmu adalah yang bisa membuat hati kita bercahaya. Karenanya, kita wajib menuntut ilmu sekuat-kuatnya yang membuat hati kita menjadi bersih, sehingga ilmu-ilmu yang lain (yang telah ada dalam diri kita) menjadi bermamfaat. Bila mendapat air yang kita timba dari sumur tampak keruh, kita akan mencari tawas (kaporit) untuk menjernihkannya. Demikian pun dalam mencari ilmu. Kita harus mencari ilmu yang bisa menjadi "tawas"-nya supaya kalau hati sudah bening, ilmu-ilmu lain yang kita kaji bisa diserap seraya membawa manfaat. Mengapa demikian? Sebab dalam mengkaji ilmu apapun kalau kita sebagai penampungnya dalam keadaan kotor dan keruh, maka tidak bisa tidak ilmu yang didapatkan hanya akan menjadi alat pemuas nafsu belaka. Sibuk mengkaji ilmu fikih, hanya akan membuat kita ingin menang sendiri, gemar menyalahkan pendapat orang lain, sekaligus aniaya dan suka menyakiti hati sesama. Demikian juga bila mendalami ilmu ma’rifat. Sekiranya dalam keadan hati busuk, jangan heran kalau hanya membuat diri kita takabur, merasa diri paling shalih, dan menganggap orang lain sesat. Oleh karena itu, tampaknya menjadi fardhu ain hukumnya untuk mengkaji ilmu kesucian hati dalam rangka ma’rifat, mengenal Allah. Datangilah majelis pengajian yang di dalamnya kita dibimbing untuk riyadhah, berlatih mengenal dan berdekat-dekat dengan Allah Azza wa Jalla. Kita selalu dibimbing untuk banyak berdzikir, mengingat Allah dan mengenal kebesaran-Nya, sehingga sadar betapa teramat kecilnya kita ini di hadapan-Nya.
Kita lahir ke dunia tidak membawa apa-apa dan bila datang saat ajal pun pastilah tidak membawa apa-apa. Mengapa harus ujub, riya, takabur, dan sum’ah. Merasa diri besar, sedangkan yang lain kecil. Merasa diri lebih pintar sedangkan yang lain bodoh. Itu semua hanya karena sepersekian dari setetes ilmu yang kita miliki? Padahal, bukankah ilmu yang kita miliki pada hakikatnya adalah titipan Allah juga, yang sama sekali tidak sulit bagi-Nya untuk mengambilnya kembali dari kita? Subhanallaah! Mudah-mudahan kita dimudahkan oleh-Nya untuk mendapatkan ilmu yang bisa menjadi penerang dalam kegelapan dan menjadi jalan untuk dapat lebih bertaqarub kepada-Nya. Ref: Aa Gym.
Entry Filed under: Lentera Hati, Islami

7 Komentar Tambahkan Sendiri
1. edi nursafari | March 29th, 2007 at 7:58 am
inilah hakikat dari spiturl eksperien seorang guru yang selalu berhaarap ilmu yang diberikan kepada anak didiknya menjadi ilmu yang bermanfaat dan kelak siswa-siswinya menjadi rahmatan lilalamin di lingkungan mereka masing-masing, semoga Allah SWT. selalu melimpahkan karunia-Nya kepada semua guru, amin.
2. dede garut | January 9th, 2008 at 10:58 am
Mudah-mudahan yang saudara tulis ini bisa dibaca oleh yang merasa hatinya kotor seperti saya ini. Coba cari lagi referensi yang sejanis untuk memperkuat syiar Islam Amien.
3. TAUFIK AFANDI | February 2nd, 2008 at 1:48 pm
Guru merupakan orang biasa yg luar biasa bersihkan hati agar ilmu merasuk di hati
4. Bayu Satria | February 23rd, 2008 at 2:23 pm
assalamualaikum wr wb
saya sangat senang membaca artikel-artikel di website ini
walaupun saya baru saja membuka website ini saya sangat tertarik dengan artikel bernuansa islam disini, dengan membaca artikel artikel ini saya menjadi lebih tahu dan menambah wawasan saya
semoga kita selalu dilindungi oleh ALLAH SWT amien
saran dari saya agar menam bah artikel tentang islam dan doa sehari hari
wassalamualaikum wr wb
5. Ginanjar wicaksana | March 12th, 2008 at 7:53 am
sangat bagus,saya tertarik dengan artikel ini setelah saya termotivasi untuk semangat belajar kembali.saya juga banyak maksiat yang sulit mendapat ilmu dngn baik.didalam artikel ini perumpamaan yg sangat menyentuh didalam.dan saya ingin menjadi yg lebih baik dalam mencari ilmu
6. gelbril | April 2nd, 2008 at 2:27 pm
ka-er-en
= kereeeeeeeeeeeeeeeeeeennnnnnnnnnnnnnnnn………………………..
emmmmmmm………………………………………………………………………. da h ya…………………… cukup segitu aje…………………………….
7. Rudy ahmad | April 26th, 2008 at 3:41 pm
saya adalah hamba Allah yang selalu berbuat dosa, saya ingin tanyakan ketika manusia itu sudah kembali kejalan Allah, cara apa agar manusia itu tidak terperosok lagi kejalan yang sesat
Komentar
Kode HTML yang di izinkan:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>
Track posting ini | Berlangganan Komentar ini menggunakan RSS