Mengenai Hidayah

January 10th, 2007

hidayah.jpg
Almarhum Buya Hamka (semoga Allah memuliakan dan merahmatinya) pernah menggambarkan hidayah itu seperti pesawat terbang. Kalau landasannya sederhana, bisa jadi yang mendaratnya akan seperti helikopter. Jika landasannya agak bagus, kira-kira pesawat sejenis capung yang akan mendarat. Kalau makin baik lagi landasannya, minimal sekelas pesawat twin otter akan mendarat. Begitu pun semakin mantap dan khas landasannya, maka bisa jadi pesawat cassa atau jumbo jetlah yang bakal parkir.

Ujaran Buya itu paling tidak bisa kita maknai begini. Apabila seseorang merindukan hidayah dari Allah Azza wa Jalla, maka yang pertama-tama hendaknya ia kerjakan tak lain ialah menyiapkan dirinya untuk "didarati" oleh hidayah tersebut. Semakin ia membersihkan dirinya, semakin cantik dan apiklah kira-kira "landasan hati" untuk didarati oleh hidayah itu. Begitu pula ketika landasan hati itu telah tertata sedemikian rupa, bukan hal yang mustahil "pesawat-pesawat hidayah" akan banyak parkir di hati seseorang.


Berusaha Bersih

Lihatlah cermin kotor. Apa yang terlintas dari benak kita? Yang pasti wajah kita takkan tampak saat kita becermin. Sehingga, bagaimana mungkin kita bisa melihat wajah tampan atau cantik kita, sebuah wajah yang membuat kita berseri. Islam, melalui ritual shalat, sebenarnya telah mengajarkan pada kita untuk hidup bersih. Perhatikan prosesinya. Dimulai dari tata cara wudhu, terutama diarahkan pada segi-segi tubuh yang banyak aktivitasnya. Dari tangan, wajah, ujung rambut, hingga ujung kaki.

Kemudian dalam hal berpakaian saat shalat, dianjurkan pula yang terbaik pakaian yang kita pakai. Sebab yang kita hadapi adalah Raja Semesta Alam. Penguasa langit dan bumi. Pemberi rezeki. Penggenggam nyawa kita.

Sewaktu shalat pun disarankan dengan sangat untuk tumakninah –tertib, runtut dan tidak tergesa-gesa. Semua ucapan dalam shalat didawamkan sebenar-benarnya dengan penuh ketawadhuan. Semuanya dikerjakan sesadar-sadarnya hingga berakhir dengan salam. Dari awal dimulai dengan kebersihan, diakhirinya pun bersih.

Dalam kehidupan sehari-hari pun seorang Muslim hendaknya hidup dalam kebersihan. Bersih dari perilaku curang. Bersih dari dusta. Bersih dari kezaliman. Bersih dari khianat atau kemunafikan. Dan itu semua bermula dari niat dan tekad kita untuk senantiasa membersihkan hati dari semua potensi yang memungkinkannya terkotori. mns/mqp.

Entry Filed under: Lentera Hati, Islami

1 Komentar Tambahkan Sendiri

  • 1. Tri gunawan. SE  |  May 3rd, 2007 at 1:05 pm

    Asssalamualikum wr.wb

    Saya sangat bersyukur atas adanya web Purwakarta.org karena banyak berisi masalah agama, dan petuah dan kita sadari bahwa skrng moral bangsa indonesia lagi turun sehingga berbuatan dan perkataan, serta janji2 yang muluk terhadap masyrakat bawah sering dilupakan. Perkataan tidak sesuai dengan perbuatan. Semoga dengan adanya web Purwakarta.org ini moral para pejabat, pengusaha, ulama dan seluruh lapisan masyarakat akan jernih kembali. Amin

    wassalam

Komentar

Diperlukan

Diperlukan, hidden

Kode HTML yang di izinkan:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>

Track posting ini  |  Berlangganan Komentar ini menggunakan RSS


Kalender

January 2007
M T W T F S S
« Dec   Feb »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

Posting Terakhir

Iklan