Ini kisah tentang searang lelaki penjual air dengan sebuah pikulan kayu, setiap pagi dan sore ia membawa dua tempayan penuh air bersih yang diikatkan pada kedua ujung pikulan kiri dan kanan. Air yang diambil dari mata air di kaki gunung tersebut lalu diedarkan di perkamÂÂÂpungan penduduk di punggung bukit. Sayang, tempayan yang ada di sebelah kiri bocor, sehingga air terus menetes.
Read More…
Posted in
Lentera Hati at August 22nd, 2005.
No Comments.
Melihat tiga orang lelaki asing berdiri di halaman, waÂÂÂnita yang empunya rumah keluar menemui mereka. “Maaf, saya tidak mengenal Anda sekalian. Tapi tamÂÂÂpaknya Anda baru saja menempuh perjalanan jauh. Silakan maÂÂÂsuk, mari minum teh.” Salah satu dari ketiga tamu tak diunÂÂÂdang itu menyahut, “Apakah suamimu berada di rumah?”
Read More…
Posted in
Lentera Hati at August 22nd, 2005.
No Comments.